• 1. Rahasia Beli Emas Sepertiga Harga Dari Mentor Seminar Entrepreneur University
  • 2. Inverter Plus, Atasi Pemadaman Listrik PLN, Lebih Hemat Tanpa BBM Lebih Nyaman Tanpa Asap, Dilengkapi Charger Aki ke PLN
  • 3. Flip Property Ala Tung Desem Waringin, Bagaimana Menghasilkan Selisih Uang Dari Property Yang Dibeli Dengan Cara "Flip"
  • 4. Cara Mendapatkan Keuntungan Dalam Bisnis Versi Robert T Kyosaki
  • 5. Memahami Perbedaan Resiko dan Beresiko Tulisan dari tdwclub.com
  • 6. Hanya Dibutuhkan Ide Untuk Mendapatkan Uang, Dilengkapi dengan Contoh Kasus
  • 7. Tiga Langkah Sederhana Membuat Keinginan atau Mimpi anda Menjadi Kenyataan
  • 8. Tiga Jenis Sistem Bisnis Versi Tung Desem Waringin dan Robert T Kyosaki
  • 9. Menyaring Teman Untuk Menjaga Mindset Guna Masa Depan Anda
  • 10. Orang Bodoh Dengan Orang Cerdas, Termasuk Yang Manakah Anda?
  • 11. Tujuh Level Investor Property Dalam Menguasai Property
  • 12. Tips Agar Berhasil Menjadi True Business Owner Versi Tung Desem And Robert Kyosaki
  • 13. Tempat Jual dan Beli Emas Batangan Antam di PT. Aneka Tambang
  • 14. Cara Orang Orang Kaya Mengatasi Rasa Takut Kehilangan Uang
  • 15. Yang Dilakukan Kebanyakan Orang Orang Gagal Dalam Hidup. Tulisan dari TDWCLUB.COM
  • 16. Posisi Seks Kamasutra Yang Membuat Pasangan Anda Mencapai Klimaks Dalam Berhubungan, Khusus Suami Istri Lho
  • 17. Posisi Seks Favorit Wanita Yang Membuat Istri Anda Lebih Bahagia, Edisi Khusus Untuk Suami Lho
  • 18. Membahas Antara Mitos dan Fakta Seksual Pada Wanita Indonesia
  • 19. Empat Jenis Ciuman Hangat Yang Disukai Para Cowok Tulen. Khusus Buat Istri Yang Mau Bahagiakan Suami
  • 20. Membahas Kepribadian Cowok Dilihat Dari Posisi Seks Favorit Lelaki Saat Bercinta
  • 21. Cara Berinvestasi Property Yang Dijamin Aman dengan Cara Investasi Emas Batangan Antam
  • Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

    Yg dilakukan orang gagal

    Dijelaskan oleh Robert Kiyosaki, orang yang takut kalah melakukan hal serupa dalam hidup. Kita semua mengenal :

    1. Mereka yang mempertahankan perkawinan yang tidak lagi berlandaskan cinta.

    2. Mereka yang menjalani pekerjaan tidak berprospek.

    3. Mereka yang terus menyimpan pakaian tua serta “barang-barang” yang takkan pernah mereka pakai.

    4. Mereka yang tetap tinggal di kota-kota dimana mereka tidak mempunyai masa depan.

    5. Mereka yang tetap berteman dengan orang-orang yang menghalangi kemajuan mereka.

    Dalam bahasa saya sendiri, seperti sebuah cerita orang Afrika menangkap monyet. Di Afrika ada satu suku yang makan monyet, mereka berburu monyet untuk dimakan. Cara berburu mereka bermacam-macam, ada yang menggunakan cara dipanah, ada yang disumpit, tapi yang paling menarik adalah ada yang menangkap dengan menggunakan kendi. Mereka mengikat kendi dari tembaga ke pohon atau batu yang besar. Kemudian diisi dengan kacang, Dan sebagian kacang ditaruh diluar. Begitu sang monyet melihat kacang tersebut, setelah dipastikan kanan kiri aman maka monyet tadi turun dan mulai memakan kacang tersebut. Dan ketika kacang diluar habis, monyet tersebut mulai melirik kacang yang ada di dalam kendi. Dan begitu tangan monyet tersebut masuk untuk mengambil kacang, begitu tangan monyet tadi menggenggam maka tangan monyet tersebut tidak bisa ditarik dari kendi yang tertali di pohon yang besar. Dan monyet tersebut tidak mau melepaskan “Let It Go” kacangnya. Akibatnya monyet tersebut tertahan terus tidak bisa pergi, bahkan sampai pemburu monyet datang tetap saja sang monyet tidak mau “Let it go”. Kapan monyet tersebut mau “Let it go” kacangnya? Yaitu ketika monyet tersebut mati disembelih. “Kenapa demikian?” Karena dia namanya “monyet!”.

    Maka ada peribahasa bahasa Inggris, “You pay peanut, you get monkey”.

    Banyak dari kita yang sudah tahu bahwa yang kita kerjakan sekarang tidak akan mambantu kita mencapai apa yang kita inginkan. Tetapi kita takut kehilangan “kacang” kita sampai kita disembelih (dipecat) baru kita berani “Let It Go”.

    Orang yang berpikir “cari aman” adalah pikiran logis. Sebenarnya salah, karena itu adalah pikiran emosionil. Dan pikiran emosionil lah yang membuat orang “macet”di sebuah kuadran.

    Jika orang tidak bisa mengendalikan pikiran emosi mereka, dan kenyataannya banyak yang tidak bisa, maka mereka sebaiknya tidak mencoba menyeberang. Robert Kiyosaki menganjurkan agar semua yang ingin menyeberang lebih dulu memastikan mereka mempunyai orang-orang yang akan selalu mendukung mereka, dan memiliki seorang pembimbing di sisi lain kuadran yang akan membimbing mereka.

    Semoga bermanfaat,

    3 langkah merubah mimpi jadi nyata

    Ingatkah anda pada film-film action bertema perang dunia kedua dimana superheronya menghadapi segala rintangan, bahaya dan sukses mencapai tujuannya. Dari film tersebut, saya merumuskan tiga langkah sederhana dalam merubah mimpi jadi nyata. Tiga langkah itu adalah:

    LIHAT

    Apabila anda ingin mencapai suatu target, anda harus dapat melihat target anda dengan jelas. Tentukan SATU target. Kesuksesan dibidang apa yang anda inginkan? Berapa jumlahnya? Akan lebih baik bila jumlahnya dapat diukur dengan spesifik. Dan hal yang terpenting, mengapa anda memnginginkan hal itu dalam hidup anda? Alasan harus kuat. Akan lebih baik lagi bila bersifat emosional.

    FOKUS

    Untuk mencapai suatu tujuan, anda wajip mengalokasikan energi dan perhatian yang cukup sampai anda mencapainya. Bila anda memiliki target lain di dalam pikiran anda, maka perhatian anda akan terpecah menjadi bagian-bagian kecil. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang tidak mencapai target mereka.

    AKSI INTENSIF

    Kini waktunya action! Hanya saja action anda harus dilakukan berulang-ulang sampai anda mencapai target yang anda inginkan. Bekerjalah dengan intensif dan cerdas. Ingat, tetesan-tetesan air yang turun terus menerus dapat menimbulkan cekungan dalam batu.

    Jadi, tetapkan tujuan hidup jangka panjang anda hari ini juga dan capailah hidup anda. Take action, miracle happens! Sukses selalu buat anda.

    Kisah Parang Tajam Vs Parang Tumpul

    Alkisah, suatu saat, salah satu pendiri Pondok Modern Gontor, KH Imam Zarkasyi berjalan-jalan berkeliling pondok melihat-lihat suasana belajar santri, yang kebetulan saat itu sedang musim ujian. Terlihat santri di mana-mana belajar dengan tekun dan rajin. Ada yang berteriak-teriak menghafal, ada yang memejamkan mata sambil berpikir, ada juga yang berdiskusi tentang suatu materi pelajaran yang kelihatannya agak sulit.

    Beberapa saat berkeliling, tiba-tiba mata Pak Kyai dihadapkan pada sekelompok orang yang sedang bercanda dan bermain-main, tidak belajar, seakan meremehkan ujian yang akan diadakan esok harinya. Dan Pak Kyai tahu mereka adalah orang-orang yang di kelasnya terkenal mempunyai tingkat kepintaran di atas rata-rata.

    Melihat keadaan tersebut, Pak Kyai kemudian masuk ke rumah yang kebetulan tidak terlalu jauh dengan asrama. Para santri yang melihat Pak Kyai bergegas ke rumah saling berpandangan antara satu dengan yang lain. Mereka ketakutan dan berharap-harap cemas sambil menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

    Dan betapa terkejutnya santri-santri tersebut saat Pak Kyai keluar tiba-tiba membawa dua buah parang dan satu bilah kayu. Mereka terdiam seribu bahasa tidak berani memandang ke arah Pak Kyai. Mereka merasa bersalah, dan sudah pasrah jika Pak Kyai akan memberikan hukuman kepada mereka. Dan mereka tahu benar, Pak Kyai adalah orang yang sangat berdisiplin, dan tidak mentolerir santrinya jika melanggar aturan disiplin.

    Situasinya sangat menegangkan. Pak Kyai melangkah dengan pelan mendekati mereka. Wajahnya menunjukkan keteduhan yang mendalam dengan garis ketegasan yang tidak pernah luntur. Para santri semakin tertunduk, menahan nafas, tidak berani bergerak walau sedikitpun. Apalagi melihat dua buah parang yang dibawa Pak Kyai, tidak terbayangkan apa yang akan terjadi pada mereka. Tetapi yang mereka pahami, Pak Kyai tidak mungkin akan mencelakakan mereka. Walaupun mereka juga kian tidak mengerti; mengapa Pak Kyai harus membawa parang segala?

    Keheningan itu terpecahkan saat Pak Kyai mulai berbicara dengan suara yang tenang tetapi penuh ketegasan: “Anak-anakku sekalian, hari ini saya membawa dua parang untuk kalian, agar kalian bisa memahami bagaimana memanfaatkan potensi akal dan kecerdasan kalian dengan baik. Lihatlah dua parang ini, yang satu adalah parang yang tumpul, dan satunya lagi adalah parang yang tajam. Saya juga bawakan kayu untuk menjadi contoh nyata di hadapan kalian”.

    Para santripun terkesima sekaligus merasa lega pada akhirnya mereka mengerti bahwa dua buah parang dan sebilah kayu yang dibawa Pak Kyai hanyalah untuk memberikan contoh kepada mereka. Tetapi tetap saja mereka tidak berani tersenyum, hanya sedikit kelegaan yang terpancar pada muka-muka takut mereka.

    Pak Kyai meneruskan: “Dua parang ini akan saya praktekkan untuk bagaimana memotong kayu. Saya mulai dengan parang yang tajam”, begitu tutur Pak Kyai. Parang itu memang terlihat berkilau dengan sisi ketajaman yang terlihat jelas karena sering diasah. Pak kyai sejurus kemudian mengambil parang tajam dan sebilah kayu dan bersiap-siap untuk menggerakkan tangannya mau memotong kayu tersebut.

    Tetapi anehnya, Pak Kyai tidak menggerakkan tangannya dengan sepenuh hati. Tidak ada kekuatan keras yang memacu tangannya agar segera memotong bilah kayu tersebut. Berkali-kali Pak Kyai menggerakkan tangannya, tetapi tentu saja dengan tanpa kekuatan yang berarti, bilah itu lama patahnya, dan hanya luka sedikit-sedikit.

    Sebentar kemudian, Pak Kyai mengambil satu parang lagi, parang yang terlihat karatan, tumpul dan jarang diasah. Pak Kyai melakukan hal yang sama dengan parang sebelumnya; memotong sebilah kayu tersebut. “Anak-anakku, lihatlah sekarang saya akan memotong kayu ini dengan parang yang tumpul”.

    Mulailah Pak Kyai mengayunkan tangan dan memotong kayu dengan parang yang tumpul. Memang parang tersebut tidak langsung bisa memotong kayu, tetapi Pak Kyai kali ini menggerakkan tangan tersebut dengan penuh kekuatan dan kesungguhan. Kerasnya gerakan tangan tersebut membuat parang yang tumpulpun pada akhirnya bisa memotong sebilah kayu.

    Para santri yang menyimak peristiwa itu sungguh tertegun. Mereka menjadi sadar, betapa mereka telah menyia-nyiakan potensi yang mereka miliki selama ini. Sampai akhirnya mereka disadarkan kembali oleh suara Pak Kyai: “Saya tahu benar, mungkin kalian mempunyai kecerdasan yang baik, tetapi kalau tidak digunakan dengan kesungguhan dan kerja keras, tidak akan pernah memberikan hasil yang maksimal. Sama dengan parang tadi, parang yang tumpul-pun jika kita menggunakannya dengan penuh kesungguhan akan bisa memberikan hasil yang maksimal”.

    Pak Kyaipun meninggalkan para santri yang masih termenung memikirkan apa yang dikatakan Pak Kyai. Baru beberapa saat kemudian mereka tersadar bahwa selama ini mereka tidak memanfaatkan kecerdasan yang mereka miliki dengan baik. Dan mereka bersyukur memiliki guru yang dengan bijaksana mengajarkan dan menyadarkan mereka pentingnya usaha, kerja keras dan kesungguhan.

    Kisah nyata di atas, yang diceritakan oleh Ust. H. Rasyidin Bina, Pimpinan Pesantren Ar-Raudhah Hasanah Medan di sela-sela saya memberikan pelatihan bagi santri dan guru-guru di sana memberikan kita pelajaran berharga tentang pentingnya melakukan usaha sekeras mungkin. Dengan usaha yang keras, apalagi ditambahkan dengan keterampilan dan pengetahuan yang tinggi, akan memberikan dampak dan hasil yang maksimal. Jangan sampai potensi yang kita miliki terbuang percuma hanya karena kita tidak bisa memanfaatkannya dengan baik.

    Cerita di atas mungkin banyak terjadi di antara kita. Ada sekelompok kita yang mungkin terkadang merasa mempunyai ilmu dan pengetahuan yang memadai sehingga tidak perlu bekerja keras dalam belajar dan bekerja. Mereka merasa, toh nanti kita bisa kerjakan dengan cepat, ngga perlu kerja keras dari sekarang. Tidak sadar bahwa kita membuang-buang waktu untuk hal-hal yang terkadang tidak berguna.

    Di sisi lain, mungkin juga ada sekelompok kita yang merasa bahwa kita tidak cukup pandai untuk melakukan sesuatu. Perasaan itu membawa kita kepada rendah diri sehingga tidak pernah muncul percaya diri dari dalam diri kita. Kalau mau mengerjakan sesuatu, malu atau minder terlebih dahulu karena merasa tidak mampu. Padahal, jika kita mau belajar sedikit saja, kita sebenarnya mampu mengerjakannya dengan baik.

    Jadi, potensi apapun yang kita miliki seyogyanya untuk tidak pernah meremehkan potensi tersebut. Saatnya menggunakan potensi tersebut sebaik-baiknya dengan penuh kesungguhan, konsistensi, disiplin, dan juga kerja-kerja keras yang kita lakukan. Jangan percaya pada mitos bahwa sukses hanya milik orang-orang pintar, karena kita semua mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk mencapai sukses tersebut. Ayo, rebut kesuksesan kita masing-masing.

    Sukses buat Anda semua, Salam Man Jadda Wajada.

    Mengubah Takdir

    Seorang pemain profesional bertanding dalam sebuah turnamen golf. Ia baru saja membuat pukulan yang bagus sekali yang jatuh di dekat lapangan hijau.
    Ketika ia berjalan di fairway, ia mendapati bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang mungkin dibuang sembarangan oleh salah seorang penonton. Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik?

    Sesuai dengan peraturan turnamen, jika ia mengeluarkan bola dari kantong kertas itu, ia terkena pukulan hukuman. Tetapi kalau ia memukul bola bersama-sama dengan kantong kertas itu, ia tidak akan bisa memukul dengan baik. Salah-salah, ia mendapatkan skor yang lebih buruk lagi.
    Apa yang harus dilakukannya?

    Banyak pemain mengalami hal serupa. Hampir seluruhnya memilih untuk mengeluarkan bola dari kantong kertas itu dan menerima hukuman. Setelah itu mereka bekerja keras sampai ke akhir turnamen untuk menutup hukuman tadi.

    Hanya sedikit, bahkan mungkin hampir tidak ada, pemain yang memukul bola bersama kantong kertas itu. Resikonya terlalu besar. Namun, pemain profesional kita kali ini tidak memilih satu di antara dua kemungkinan itu.

    Tiba-tiba ia merogoh sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan sekotak korek api. Lalu ia menyalakan satu batang korek api dan membakar kantong kertas itu. Ketika kantong kertas itu habis terbakar, ia memilih tongkat yang tepat, membidik sejenak, mengayunkan tongkat, wus, bola terpukul dan jatuh persis ke dalam lobang di lapangan hijau. Bravo! Dia tidak terkena hukuman dan tetap bisa mempertahankan posisinya. Smiley…!

    Sahabat, Ada orang yang menganggap kesulitan sebagai hukuman, dan memilih untuk menerima hukuman itu. Ada juga yang mengambil resiko untuk melakukan kesalahan bersama kesulitan itu.
    Namun, sedikit sekali yang bisa berpikir kreatif untuk menjadikan kesulitan itu sebagai peluang untuk menggapai kesuksesan.

    Keputusan dan Takdir Allah itu akan berubah ketika kita berani menempuh mujahadah ( kesungguhan ) dan ikhtiar yang makasimal. Bukan hanya menerima dan pasrah dengan keadaan yang ada.

    Kasus diatas, adalah contoh konkrit Kalau sang pegolf tersebut tidak berfikir keras dan menerima kondisi yang ada didepan matanya, maka dipastikan dia tidak akan menang bahkan terhukum. Keadaan yang sulit tersebut membuat dirinya tidak menyerah begitu saja dan mengerahkan segala kemampuan berfikirnya untuk mengatasi kesulitan yang ada di depan matanya. Maka Allapun turun tangan memberikan solusi untuknya, dan takdir kemenanganpun diraihnya.

    Allahpun dengan tegas berfirman,
    “ Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK MENGUBAH KEADAAN SESUATU KAUM SEHINGGA MEREKA MENGUBAH KEADAAN YANG ADA PADA DIRI MEREKA SENDIRI. dan apabila allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain dia ” (Q.S.Ar-Ra’du :11 )

    Ayat ini adalah motivator agar kita bekerja keras dan cerdas agar senantiasa kemenangan dan kesuksesan selalu di pihak kita.

    Sahabat RYI yang dicintai Allah SWT, untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan yang terkait dengan Generasi kita yang Yatim dan Dhu’afa yang semakin meningkat jumlah dan permasalahannya dibutuhkan kebersamaan, mujahadah dan kerja keras kita semua sebagai bentuk kesungguhan kita dalam mengabdi kepada Allah SWT agar takdir keterpurukan ini berubah menjadi kesejahteraan bersama

    Rumah Yatim Indonesia adalah sarana diantara sekian banyak sarana untuk berjuang mengubah Takdir Kaum Muslimin saat ini, Apa saja kontribusi dan partisipasi yang bisa kita dukung saat ini :
    1. Undang (invite) teman-teman Facebook Anda ke Salah satu Grup Istana Sorgaku yang anggotanya masih dibawah 4000,minimal 10 teman Anda maksimal terserah Anda atau suggest (usulkan ) teman-teman Anda untuk berteman ke Akun Rumah Yatim Indonesia yang anda ikuti, selalu lakukan hal ini selagi Anda punya kesempatan

    2. Berpartisipasi menjadi donatur dalam program yang kami tawarkan setiap bulannya, minimal Rp.10.000,- makasimal sesuai kemampuan Anda

    3. Salurkan Zakat. Infaq/Sedekah, Nazar dan Wakaf Anda ke Rumah Yatim Indonesia via Rekening atau datang langsung ke unit-unit kegiatan RYI jika ada kesempatan

    4. Tolong kunjungi visualisasi kegiatan RYI secara lengkap di htt://www.youtube.com, silahkan ketik keyword : rumahyatimindonesia ( tanpa spasi) di kotak pencarian Youtube.com atau beberapa kegiatan di http://www.yatim.tv/

    Pengusaha Malas dan tidak pintar

    Berikut ini dipaparkan beberapa kutipan Purdi E Chandra, pendiri Primagama dan Entrepreneur University yang menjadi pembicara utama dalam seminar yang mengangkat tema "gila", maka setiap ungkapan yang dikemukakan Purdi terasa "gila" dan membuat peserta tertawa.

    Saya masuk kuliah di empat universitas tapi tidak selesaikan kuliah. Tapi saya juga heran kenapa bisa dirikan Primagama, sebuah lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia yang cabangnya sampai ratusan.

    Padahal saya tidak terlalu pintar-pintar amat. Makanya saya berpikir kalau kita terlalu pintar menyebabkan terlalu banyak pertimbangan, yang akhirnya tak ada sama sekali yang bisa dikerjakan. Makanya mungkin alangkah baiknya anak kita jangan terlalu pintar (hadirin tertawa). Anak saya yang di SMP ranking 11 langsung minta mobil. Ini sudah luar biasa dibandingkan sebelumnya yang ranking 20-an. Dia juga mau jadi pengusaha. Lihat saja banyak orang pintar tapi tidak mau kerja.Untuk mau menjadi pengusaha jangan terlalu banyak pertimbangan. Laksanakan saja niat itu dan tunggu hasilnya. Coba lihat pakar akuntansi tidak mau berusaha karena apa. Yah itu tadi karena mereka belum berusaha sudah takut jadi pengusaha, karena mereka sudah mempelajari dulu hitung-hitungan menjadi pengusaha yang mengerikan makanya mereka takut sebelum berusaha.

    Lalu kenapa orang mau jadi pengusaha. Saya kira Jaya Setiabudi sudah memaparkan banyak tadi. Yah jadi pengusaha itu misalnya gini, saya merasa tiap hari kerjanya apa. Paling kalau ada yang mau ditandatangani baru muncul. Makanya yang perlu diketahui calon pengusaha tidak usah muluk-muluk kalu sudah bisa tanda tangan yah bagus-lah (hadirin tertawa).Pengusaha itu tidak perlu tinggi-tinggi sekolah, karena yang mereka perlukan hanya tahu tanda tangan dan mengingat bentuk tanda tangannya jangan sampai salah tanda tangan satu dengan lainnya.

    Selain itu, pengusaha kebanyakan dari orang malas. Sebab orang yang sudah pintar itu diperebutkan sama perusahaan untuk menjadi karyawan. Makanya yang jadi pengusaha itu dulunya orang malas. Orang malas sebenarnya bukan hal yang negatif karena melihat pengalaman selama ini, kebanyakan mereka yang jadi pengusaha. Nah, orang pintar akan dibutuhkan pengusaha sebagai tulang punggung perusahaan. Misalnya, saya sebagi Direktur, banyak pegawai saya adalah para doktor, sementara saya tamat kuliah juga tidak. Paling saya membuat akademi perguruan tinggi dan memanggil para doktor mengajar di tempat saya dan gelar saya dapat dari akademi saya sendiri.

    Setelah berbicara bahwa seorang pengusaha tak harus pintar, pendiri lembaga pendidikan Primagama dan Entrepreneur University, Purdie E Chandra, mengupas pembicaraan mengenai fungsi otak kanan sebagai salah satu tips menjadi pengusaha, berikut beberapa petikannya.

    Untuk menjadi pengusaha memang harus sedikit "gila". Lebih gila lagi kalau teman-teman tidak mau jadi pengusaha (hadirin tertawa). Untuk menjadi seorang pengusaha pakailah otak kanan Anda. Kalau perlu jangan gunakan sama sekali otak kiri. Kenapa harus otak kanan?

    Ini yang lucu karena otak kanan mengajarkan kita hal yang tidak rasional. Berbeda dengan otak kiri, ia memberitahukan sesuatu yang rasional, teratur, dan berurut-urut. Misalnya begini, murid SD disuruh kreatif sama gurunya. Ia disuruh membuat gambar pemandngan. Karena dari dulu gambar pemandangan yang ia tahu hanya yang ada gunung lalu dibawahnya jalan raya dan sungai, maka sampai dia SMU pun hanya gambar itu yang ia tahu. Ketika diperintahkan menggambar pemandangan. Ini keteraturan tapi tidak ada kreativitas. Kalau ada otak kanan maka ia akan memberitahukan sesuatu yang lebih kreatif. Lalu, apakah Anda mau dari dulu jadi karyawan terus menerus, tidak kreatif ingin menjadi pengusaha dan punya karyawan.Atau begini, anda bangun setiap pagi, mandi, naik angkot ke kantor, bekerja lalu menjelang sore pulang ke rumah setelah itu tidur dan besoknya lagi ke kantor. Itu dijalani selama belasan tahun bahkan sampai kakek-nenek. Dan sama sekali terbatas waktu yang sebanyak-banyaknya dengan orang luar yang lain dari yang dibayangkan.

    Itulah keteraturan dan yang mengatur semua itu adalah otak kiri. Apakah Anda mau seprti itu seterusnya? Makanya gunakanlah otak kanan. Mau jadi pengusaha biasakanlah otak kanan Anda yang bekerja. Dan Anda tak perlu setiap hari ke kantor dan pulang sore.Kenapa tangan kanan kita selalu bergerak? Karena yang menggerakan adalah otak kiri makanya teratur hasilnya. Lalu, apakah kita harus seperti anak SD terus yang hanya pintar menggambar pemandangan satu model yang diajarkan gurunya?

    Otak kanan tidak banyak hitungan atau pertimbangan macam-macam. Ia lebih banyak mengerjakan apa yang dipikirkannya. Kalau mau usaha jangan terlalu banyak hitung-hitungan. Waktu bikin banyak usaha saya tidak banyak hitung-hitungan dan Alhamdulillah sukses. Saya kira banyak pengusaha lain yang seperti itu. Lihat saja beberapa orang terkaya di dunia tidak sampai selesai kuliahnya, Bill Gates misalnya bahkan dia menjadi penyokong dana utama Harvard University (Universitas ternama dunia di Amerika).Ibaratkan kita mau jadi pengusaha itu sama seperti ketika hendak masuk kamar mandi. Kenapa? Karena masuk kamar mandi kita tidak berpikir-pikir....kalau kebelet....yah langsung masuk saja. Terserah di dalam kamar mandi "sukses" atau tidak itu urusan belakang. Kalau di dalam kamar mandi tidak ada sabun kan kita akhirnya keluar juga dan ada upaya untuk mencari. Orang terkadang akan mencari sesuatu apapun yang menurutnya mendesak dengan berbagai cara. Kalau pun pada saat itu tidak ada sabun di rumah ia akan berusaha untuk mencari sabun sampai dapat. Untuk latih otak kanan tidak perlu sekolah-sekolah tinggi. Anak saya yang SMP sekarang kalau bukan karena takut ditanya calon mertua kelak, mungkin dia sudah berhenti sampai SMP saja. Jangan sampai calon mertua nanti tanya, anaknya lulusan apa? (peserta seminar tertawa).

    Si Tukang Kayu dan Rumahnya

    Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

    Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak
    sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta.

    Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

    Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia
    menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu, ” katanya, “hadiah dari kami.”

    Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

    Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.

    Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

    Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi.

    Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.

    “Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri”. (Adapted from The Builder - Cecilia Attal)

    Kontes Berhadiah Seorang Putri Cantik

    Adalah seorang raja yang berkuasa di sebuah wilayah di Eropa, seorang raja yang terkenal pemberani dan disegani kawan maupun musuh-musuhnya. Sang raja memiliki seorang putri yang telah beranjak dewasa dan sudah saatnya menikah, namun yang
    diinginkannya adalah seorang menantu yang pemberani
    seperti dirinya.

    Raja mengumpulkan para penasehatnya dan disepakati mengadakan sayembara untuk mendapatkan seorang pemuda yang gagah dan pemberani. Sayembara berenang menyeberangi sungai yang
    ada didepan benteng kerajaan yang didalamnya diisi banyak buaya yang dalam sebulan dibiarkan kelaparan agar menjadi sangat ganas.

    Diumumkanlah sayembara ini ke seluruh rakyatnya dan saat hari yang ditentukan tiba, mulailah berdatangan para pemuda dari segala penjuru negeri, kemudian sang raja keluar dan berdiri diatas kastilnya serta mengangkat bendera tanda dimulainya sayembara itu. Namun hingga dua jam lamanya tak ada seorang pun yang berani terjun ke sungai yang penuh dengan buaya itu. Raja mulai gelisah dan kecewa karena merasa akan gagal mendapatkan seorang pemberani dari kalangan rakyatnya.

    Ketika matahari mulai meninggi, ada sekelompok pemuda datang dan ikut merangsek di kerumunan massa ditepian sungai dan bertanya-tanya ada apa gerangan. Setelah mendapat penjelasan dari orang-orang yang ada disana merekapun hanya manggut-manggut seraya mengamati beberapa ekor buaya yang ada di sungai itu
    dan saling tunjuk tanpa seorangpun berani mengikuti sayembara itu.

    Ketika sebagian orang mulai meninggalkan sungai itu, tiba-tiba dikejutkan dengan suara seseorang terjun ke sungai, rupanya salah seorang pemuda yang baru datang itu terjun ke sungai dan berenang menuju seberang dengan kecepatan tinggi menghindari kejaran beberapa ekor buaya yang berusaha mendekatinya.

    Akhirnya pemuda itu berhasil selamat hingga seberang dan disambut dengan tepuk tangan meriah dan sang raja segera turun menyambut si pemuda itu dengan gembira. Setelah diperkenalkan dengan putrinya, sang raja sepakat menyelenggarakan pesta pernikahan besar-besaran dan meriah selama tujuh hari tujuh malam.

    Di tengah-tengah pesta pernikahan, datang pula para sahabat si pemuda pemberani ini memberikan selamat, mereka sungguh bangga memiliki seorang kawan yg kini adalah seorang menantu raja. Sambil memberikan ucapan selamat mereka tak henti-hentinya memuji keberanian si pemuda ini. Namun tiba-tiba saja si pemuda ini mengajak ke lima orang sahabatnya itu keluar dari ruang pesta dan dengan wajah kecut bertanya dengan nada menghardik..

    “Hey kalian semua, ayo katakan… siapa diantara kalian yang waktu itu mendorong saya terjun ke sungai ?!, Asal tahu ya.. hampir saja saya mati dimakan buaya!!”


    “Andai saja seseorang mampu membangunkan raksasa yang ada didalam dirinya, maka ia tak perlu menunda kesuksesan hanya karena menunggu orang lain yang menggerakkannya”

    Benih Kesuksesan sebetulnya ada pada diri setiap orang. Benih sukses itu sudah dibawa sejak lahir. Apabila selalu dipupuk dan dipelihara diladang yang bagus, maka benih itu akan terus tumbuh dan tumbuh makin berkembang. Namun, sebaliknya, apabila benih itu tumbuh di ladang yang kurang baik atau tidak baik, dan tidak dipupuk, benih itu lama kelamaan akan menjadi layu. Semuanya tergantung pada anda, “petani” dan pemilik benih itu. Apakah mau terus dipupuk dan ditempatkan di ladang yang baik? Apakah selalu dibersihkan dari hama-hama wereng?